Tuesday, November 20, 2012

Isra 'iliat



ISRA'ILIYAT
A.Isra'iliyat
Isroiliyat adalah seluruh riwayat yang bersumber dari orang-orang yahudi dan nashrani serta selain dari keduanya yang masuk dalam tafsir, hadis, cerita yang berasal dari keduanya abu syuhbah mengemukakan bahwa isroiliyat adalah informasi-inforrmasi yyang berasal dari yang berasal dari ahlul kitab baik yahudi maupun nasrani yang digunakan untuk menjelaskan nash-nash alqur’an.

B. Isra'iliyat dalam penafsiran
Masuknya kisah isroiliyat dalam penafsiran al qur’an disebabkan oleh beberapa hal
1.
Masuknya  kisah  isroiliyat  dalam  penafsirkan  al-Qur’an berawal dengan masuknya
     isroiliyat kedalam lingkungan pengetahuan bangsa arab pra islam.
2. Interaksi dan komunikasi  antara  umat Islam di Madinah  dengan  kelompok Yahudi
     memungkinkan adanya tukar menukar informasi mengenai berbagai masalahan antar
     mereka dan kaum muslimin saat itu
3. Penerjemahan Taurat ke dalam bahasa Arab.
4. Ada persesuaian antara  al-Qur’an, Taurat, dan Injil  dalam  mengetengahkan  dalam
    Beberapa persoalan.
5. Masuknya sejumlah tokoh yahudi kedalam islam dan memiliki pengetahuan luas tentang agama yahudi dan saat membaca kisah-kisah dalam alqur’an mereka paparkan kisah itu apa yang terdapat dalam kitab-kitab mereka . Ketika masa ta bi’in banyak ahli kitb yang memeluk islam. Tabi’in banyak mengambil berita-berita dari mereka bahkan perhatian dan atensi para mufassir terhadap isroiliyat semakin besarsebenarnya para sahabat hanya mengambil sedikit tentang berita-berita yang terperinci untuk menafsirkan alqur’an. Hal ini mungkin karena rosullulah pernah bersabda “janganlah kamu membenarkan (keterangan-keterangan) ahli kitab dan jangan pula mendustakanya tetapi katakanlah kami beriman kepada allah dan apa yang diturunkan kepada kami (hadis bukhori) . Para sahabat menerima keterangan/penjelasan dari ahli kitab selama tidak berhubungan dengan aqidah dan tidak pula berkaitan dengan hukum. Para sahabat juaga meriwayatkan keterangan dari ahli kitab.

C. Macam-Macam Isra'iliyat 
Ditinjau adri aspek periwayatan dibagi menjadi dua shahih dan dhaif. Ditinjau dari ditinjau dari relevansi dengan syari’at islam dibagi tiga; relevan dengan syari’at islam, tidak sesuai dan masquth anhu, dilihat dari materrinya dibagi menjadi tiga; berhubungan dengan aqidah, dengan hukum, berhubunngan dengan nasihat/ kejadian-kejadian yang tidak berhubungan dengan aqidah tetapi mungkin lebih mudahnya dari semua pembagian itu dapat dibagi menjadi tiga maqbul, mardud, maskut. Yang maqbul memenuhi kriteria shahih, sesuai dengan syari’at islam, tidak berhubunngan dengan aqidah maupun hukum, kriteria mardud dha’if, berhubungan dengan aqidah dan hukum, bertentangn dengan syari’at islam dan yang maskut yang ditinjau dari syari’at islam, tetapi mungkin yang paling signifikan adalah yang tidak bertentangan dengan dengan syari’at dalam artian luas.

D. Prespektif Ulama Tentang Isra'iliyat
1.IbnuTaimiyah
Menurut Ibnu Taimiyah cerita-cerita israiliyat dibagi menjadi tiga macam, yaitu cerita-cerita yang dibenarkan oleh Islam, cerita-cerita yang bertentangan dengan Islam, dan cerita-cerita yang Islam tidak membenarkannya, tetapi juga tidak menyalahkannya. Menurutnya israiliyat yang boleh diterima hanyalah cerita-cerita yang dibenarkan oleh Islam.
2.IbnuKatsir
Ibnu
Katsir membagi israiliyat menjadi tiga macam, yaitu:
a.Cerita-cerita yang sesuai kebenarannya dengan al-Qur’an, berarti cerita itu benar.
b.Cerita-cerita yang terang-terangan dusta, karena menyalahi ajran Islam.
c.Cerita yang didiamkan (maskut anhu), yaitu cerita yang tidak ada keterangan kebenarannya dalam al-Qur’an, akan tetapi juga tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
Cerita ini tidak boleh dipercaya dan tidak boleh didustakan. Landasan hadits Nabi:
“Sampaikan dari ajaranku walaupun satu ayat, dan ceritakan hal Bani Isra’il dan tidak berdosa, siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menyediakan tempatnya di dalam neraka.” (HR. Bukhari)
3. Al-Biqa’i, dia membolehkan cerita-cerita israiliyat tersebut dimut dalam tafsir al-Qur’an selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
4. Ibnu al-‘Arabi, menurutnya yang boleh diriwayatkan dan dimuat dalam tafsir al-Qur’an adalah terbatas pada cerita Bani Israil yang menyangkut keadaan mereka sendiri.
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan utama dalam menceritakan israiliyat adalah untuk istisyhad (memperlihatkan), bukan untuk dasar I’tiqad dan bukan pulan untuk dasar hukum.

No comments: