Thursday, September 16, 2010

Dagang Es Buah, Omzet "Segarnya" Bisa Dua Kali Lipat

JAKARTA - Singkat, tapi menghasilkan pundi-pundi uang yang banyak. Siapa yang tak mau? Lihat saja pedagang es buah musiman yang selalu mendapatkan keuntungan lumayan di kala Ramadan tiba.


Heri, pedagang es buah yang biasa mangkal di tikungan Cikini, Jakarta Pusat, mengungkapkan bahwa setiap bulan puasa usahanya yang hanya memakan waktu sebentar ini mempunyai keuntungan yang lumayan.

"Kalau bulan puasa gini enaknya itu dagangnya cuma sebentar. Biasanya dagang itu dari pukul 22.00 WIB sampai malam, kalau sekarang paling dari pukul 17.00 WIB sampai 19.00 WIB doang," ungkap Heri, kepada okezone, belum lama ini.

Ditemani istrinya yang sudah tiga tahun ini selalu mendampinginya, Heri berjualan tanpa kenal lelah. Dikatakannya, saat bulan Ramadan ini dirinya bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari biasanya.

"Biasanya dalam satu hari habis 30 bungkus atau mangkok lah. Kalau bulan puasa ini bisa sampai 50 bungkus, sampai 100 bungkus juga pernah," ungkapnya.

Namun, diakui Heri bahwa perbedaan harga juga terjadi di bulan puasa ini. Seiring dengan banyaknya pedagang es buah, es kelapa, dan minuman berbuka lainnya, Heri mengatakan lebih sulit memainkan harga, karena bersaing.

"Bulan puasa itu kan banyak yang dagang minuman buat buka, jadi kita juga harus bersaing harga. Kalau biasanya kita bisa mainin harga satu bungkusnya itu Rp6 ribu-Rp7 ribu, bulan puasa ini enggak bisa. Kita cuma patok harga Rp5 ribu, kalau dimahalin ya enggak laku," tandasnya.

Sama halnya dengan Suratman yang akrab dipanggil Mas Jo. Dia menjadi pedagang buah musiman yang hanya membuka dagangannya saat bulan puasa saja. Sehari-hari biasanya ia menjadi tukang parkir di daerah tersebut, namun ketika bulan Ramadan datang, ia beralih menjadi pedagang es buah.

"Lumayan lah, kalau dihitung-hitung dagang es buah lebih menguntungkan dari pada marker. Paling dapatnya berapa, terus juga capek harus ngatur, ngangkat-ngangkat motor lagi. Kalau ini paling capeknya sebentar, paling dua jam dari pukul 16.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Habis itu santai," ujar Mas Jo.

Ketika ditanya mengenai persaingan dagang dengan pedagang es buah lain, Mas Jo mengatakan bila tidak ada persaingan karena satu sama lain saling mengenal.

"Enggak lah (bersaing). Di sini orangnya kenal semua, sama tukang es buah di situ aja (sambil menunjuk ke arah pedagang es buah lain yang biasa mangkal) saya sering ngobrol. Kalau saya ke sana, ya dia ke sini," jelasnya.

Pedagang es buah memang memberi kesegaran melepas dahaga sebagai hidangan takjil yang menyegarkan serta menyehatkan. Selain itu, bagi para pedagang es buah, di samping bisa membantu masyarakat muslim untuk berbuka, para padagang juga menikmati keuntungan yang menyegarkan pula.

"Hitung-hitung THR lah, kita kan pedagang enggak pernah dapat THR, ya buat nyegerin Lebaran, biar bisa bagi-bagi rejeki sama saudara-saudara," tukas Heri sambil melepas senyumnya.

No comments: