Monday, December 28, 2009

Predestination to The Labile "Teacher in Madrasah Ibtidaiyah"

http://wordpres.com/,http://angkringan.or.id/Dengan berat hati dan rasa yang penuh kepedihan kuangkat hal ini dalam blog saya.Mengapa hal ini harus terjadi,dan apa masalahnya ?  Mudah-mudahan dengan blog saya ini dapat merubah keadaan yang ada.
Sebagai sesama guru di Indonesia jelas mereka punya hak atas semua kebijakan yang dikeluarkan oleh peme
rintah.Kita semua tahu bahwa dana pendidikan yang dialokasikan 20% dari APBN negara kita.Belum lagi pe
ran serta dari APBD masing-masing daerah.
Saya bersyukur betapa banyak kesempatan yang diberikan pemerintah pusat maupun daerah untuk mengang
kat derajat guru,namun ternyata tidak semua guru menikmati hal itu,sungguh saya kecewa.Ya,terus terang itu
terjadi khususnya di Kab.Banyuasin Prop.Sumatra Selatan.

Ada beberapa hal yang memperkuat tulisan saya ini,yaitu :
1. Dana Kualifikasi Guru untuk studi S1 atau S2,ternyata hanya guru dibawah diknas yang benar-benar da-
    pat menikmatinya,baik yang negeri maupun yang honor,sedangkan guru di bawah depag tidak semua   
    menikmati dana tersebut.Guru di bawah depag yang dapat menikmati hanyalah yang studi S1 ke IAIN.
    Menurut saya,mana mungkin semua guru di MI studi ke IAIN,karena mereka bukan guru bidang studi
    agama semua.Terus bagaimana nasib guru bidang studi umum  ?
2. Dana Bantuan Fungsional Guru,semua guru honor di bawah diknas 99% menikmati,yang belum mungkin
    hanya guru honor yang pengabdiannya belum ada 1 tahun,sementara guru honor di bawah depag banyak
    yang gigit jari dengan alasan tidak ada anggaran,apakah ini adil ?
3. Di Banyuasin ada kebijakan,bahwa satuan pendidikan yang berada di daerah terpencil ada dana khusus
    untuk guru,yang mana pencairannya di rapel 1 tahun.Lagi-lagi hanya guru di bawah diknas yang menik -
    mati,sedangkan guru di bawah depag hanya bisa sakit mendengarnya.Mengapa sakit?Jelas tidak adil.
    Semua guru dan murid adalah generasi bangsa yang harus sama-sama diperhatikan.Karena mereka terjun
    di dunia pendidikan formal,kecuali para ustadz-ustadzah yang ada di ponpes,mungkin hal ini bisa dimak -
    lumkan.Apa alasan mereka meng-anaktirikan guru di MI ?

Ada yang bilang Siapa berani menegakkan yayasan harus berani menanggung akibatnya,mungkin ini salah
satu alasan mereka.Atau ada alasan lain yang menyebabkan Guru MI tidak bisa menikmati dana yang 20%
tersebut.Padahal honor guru MI sangat jauh di bawah guru honor di SD,SMP,atau SMA.Itulah yang yang tengah terjadi dengan nasib guru di Banyuasin.Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di daerah anda.

Sampai kapan ketidak adilan mencengkram negara kita ?

No comments: